Masjid dalam konteks ritual merupakan tempat beribadah. Fungsi utama tersebut secara tradisional telah diemban dengan cukup baik oleh berbagai kalangan Islam di Indonesia. Dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya masjid mengemban fungsi sebagai pusat peradaban.
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. "
Ayat di atas menjelaskan sebuah perintah, permintaan yang tegas agar kita mempersiapkan diri dalam kerangka adab, apabila kita hendak berada dalam mesjid. Persiapan yang diminta adalah persiapan estetik, "keberupaan" diri di hadapan sesama dan tentu saja di hadapan Allah. Diri yang berupa secara harafiah atau lahiriah adalah diri yang berwajah. Tentu saja ukurannya di sini sangat subyektif. Namun secara umum kita dapat menentukan, memperkirakan diri siapa yang layak "berupa". Cermin, menyatakan rupa kita. Cermin menjelaskan identitas kita di tengah masyarakat. Jika cermin adalah pemisalan bagi ilmu, maka diri yang "berupa" adalah diri yang telah mengilmui dirinya sendiri yang penyembah dengan siapa Sesembahannya. Sebagai manusia yang manjing ajur-ajer dalam adab atas Tuhannya dan masyarakatnya.
Berpakaian yang indah tentu saja adalah pakaian yang estetik. Pakaian apa yang dimaksud ? Pakaian itu adalah pakaian yang "mirasani", terasa kehangatannya bila dikenakan, terasa keberperikemanusiaannya bila dipakai, terasa keutuhan manusiawinya bila dipandang siapa saja.
Pengembanan atas fungsi mesjid yang lebih luas ini mengisyaratkan suatu kerja baru yang dapat menjanjikan bagi kemajuan dan kebersamaan umat. Menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana caranya memulai kerja tersebut ? Bagaimana caranya menjadikan umat "layak estetik" dalam kerangka "etik" ?
Kerja yang dimaksud adalah kerja estetik, kerja yang lembut, sebagaimana kehadiran air yang ada di mana-mana, mengalir menuju kerendahan, dan "sumrambah", merambah kemana-mana. Secara theogenesis makhluk tercipta dari anasir zat cair. Jadi kerja tadi diharapkan mampu membawa setiap individu kepada pemahaman "kemulaannya" yang mulia secara ruhiyah, dan "keakhirannya" yang hina secara jasadiah dalam keseimbangan : "mula-akhir", "ruhiyah-jasadiah". Sebagaimana wajarnya manusia berkebutuhan makan, minum yang tak berlebih-lebihan.
Kerja tersebut juga bertujuan memanusiakan manusia dalam konteks kebersamaannya sebagai ummat. Mengayakan yang faqir, dan menguatkan yang lemah, meluruskan yang mungkin melenceng dari tata-krama adab.
Mesjid merupakan tempat hadirnya umat dengan tujuan yang lebih bersih dan lebih fokus. Itu merupakan sebuah aset. Menjadikan mesjid sebagai tempat selayak telaga, dimana siapa pun yang dahaga boleh menghampirinya untuk sebuah kesegaran merupakan tugas yang tidak mudah bagi siapa saja yang berkehendak memakmurkan masjid. Persoalan umat mesti terjawab, baik persoalan orientasi daya, gaya atau pun karakternya.
Ayat di atas menjelaskan sebuah perintah, permintaan yang tegas agar kita mempersiapkan diri dalam kerangka adab, apabila kita hendak berada dalam mesjid. Persiapan yang diminta adalah persiapan estetik, "keberupaan" diri di hadapan sesama dan tentu saja di hadapan Allah. Diri yang berupa secara harafiah atau lahiriah adalah diri yang berwajah. Tentu saja ukurannya di sini sangat subyektif. Namun secara umum kita dapat menentukan, memperkirakan diri siapa yang layak "berupa". Cermin, menyatakan rupa kita. Cermin menjelaskan identitas kita di tengah masyarakat. Jika cermin adalah pemisalan bagi ilmu, maka diri yang "berupa" adalah diri yang telah mengilmui dirinya sendiri yang penyembah dengan siapa Sesembahannya. Sebagai manusia yang manjing ajur-ajer dalam adab atas Tuhannya dan masyarakatnya.
Berpakaian yang indah tentu saja adalah pakaian yang estetik. Pakaian apa yang dimaksud ? Pakaian itu adalah pakaian yang "mirasani", terasa kehangatannya bila dikenakan, terasa keberperikemanusiaannya bila dipakai, terasa keutuhan manusiawinya bila dipandang siapa saja.
*******
Pengembanan atas fungsi mesjid yang lebih luas ini mengisyaratkan suatu kerja baru yang dapat menjanjikan bagi kemajuan dan kebersamaan umat. Menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana caranya memulai kerja tersebut ? Bagaimana caranya menjadikan umat "layak estetik" dalam kerangka "etik" ?
Kerja yang dimaksud adalah kerja estetik, kerja yang lembut, sebagaimana kehadiran air yang ada di mana-mana, mengalir menuju kerendahan, dan "sumrambah", merambah kemana-mana. Secara theogenesis makhluk tercipta dari anasir zat cair. Jadi kerja tadi diharapkan mampu membawa setiap individu kepada pemahaman "kemulaannya" yang mulia secara ruhiyah, dan "keakhirannya" yang hina secara jasadiah dalam keseimbangan : "mula-akhir", "ruhiyah-jasadiah". Sebagaimana wajarnya manusia berkebutuhan makan, minum yang tak berlebih-lebihan.
Kerja tersebut juga bertujuan memanusiakan manusia dalam konteks kebersamaannya sebagai ummat. Mengayakan yang faqir, dan menguatkan yang lemah, meluruskan yang mungkin melenceng dari tata-krama adab.
Mesjid merupakan tempat hadirnya umat dengan tujuan yang lebih bersih dan lebih fokus. Itu merupakan sebuah aset. Menjadikan mesjid sebagai tempat selayak telaga, dimana siapa pun yang dahaga boleh menghampirinya untuk sebuah kesegaran merupakan tugas yang tidak mudah bagi siapa saja yang berkehendak memakmurkan masjid. Persoalan umat mesti terjawab, baik persoalan orientasi daya, gaya atau pun karakternya.